Dampak Perang Harga, Merugikan Bisnis dan Potensi Terjadinya Monopoli Pasar

Beranda ยป Dampak Perang Harga, Merugikan Bisnis dan Potensi Terjadinya Monopoli Pasar

Perang harga merupakan bentuk persaingan bisnis yang tidak sehat. Dalam perang harga, banyak pebisnis yang kehilangan konsumennya karena mereka beralih ke kompetitor yang menjual produk sejenis dengan harga lebih murah.

Dari perspektif konsumen, wajar mereka tergoda dengan harga yang lebih murah. Namun, efek perang harga akan dirasakan banyak pihak.

Perang harga bisa diibaratkan dengan lingkungan kerja di kantor, di mana antar sesama saling “sikut-menyikut” untuk mencapai puncak.

Segala cara dilakukan, seperti menjilat atasan, menekan bawahan, atau memfitnah sesama, demi mencapai tujuan. Tapi apakah perang harga benar-benar semengerikan itu?

Dampak dan contoh kasus perang harga

Dampak perang harga sebenarnya tidak bisa dianggap remeh. Dalam beberapa kasus, perang harga dapat mematikan bisnis orang lain.

Salah satu contohnya adalah industri daging olahan dimana beberapa pebisnis mengalami kesulitan akibat perang harga.

Seperti yang dilaporkan oleh harian ekonomi.bisnis.com. Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk., Yustinus Sadmoko, mengatakan bahwa persaingan antar pabrik tidak dapat dihindari karena setiap hari muncul pesaing baru.

Dia berharap pemerintah dapat berperan sebagai penengah agar perang harga tidak terus berlanjut. Masih ada cara lain untuk bersaing selain hanya berfokus pada harga yang murah.

Contoh lain dari perang harga adalah perang tarif data internet yang terjadi pada awal pandemi, seperti yang dilaporkan oleh Selular.id.

Peningkatan penggunaan internet menyebabkan meningkatnya permintaan masyarakat akan paket data internet. Namun, daya beli masyarakat menurun sehingga perusahaan telekomunikasi terpaksa terlibat dalam perang harga.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Setiadi, orang Indonesia cenderung sensitif terhadap harga. Mereka cenderung memilih harga yang lebih murah.

Dia berharap pemerintah dapat berperan sebagai regulator untuk mencegah terjadinya perang harga yang berkelanjutan. Dampak perang harga tidak hanya merugikan bisnis orang lain, tetapi juga bisnis kita sendiri.

Tidak ada bisnis yang kuat, bahkan dengan modal yang besar sekalipun. Bayangkan jika terus-menerus menurunkan harga untuk memenangkan persaingan. Bisnis bisa bangkrut dalam waktu singkat.

Perang harga dalam konteks etika bisnis

Perang harga juga melibatkan etika bisnis. Jika berada di posisi pemenang, tentu kita tidak merasa rugi. Namun bagaimana dengan kompetitor kecil? Tentu satu per satu akan tutup karena tidak mampu bersaing harga.

Kondisi ini juga menutup peluang bagi pebisnis yang baru mulai merintis. Bagaimana bisa bersaing dan mendapat keuntungan, jika baru mulai saja bisnisnya sudah kalah.

Tidak dapat disangkal bahwa tujuan bisnis adalah untuk menghasilkan keuntungan. Namun, bukan berarti segala cara boleh digunakan untuk mencapainya.

Dampak perang harga bagi konsumen

Konsumen mungkin merasa senang dengan adanya perang harga karena mereka dapat membeli produk dengan harga yang murah. Sekilas, perang harga seperti ini nampak positif bagi konsumen.

Namun, kondisi ini bisa menjadi jebakan. Perang harga akan menguntungkan pebisnis yang kuat dari segi modal maupun strategi.

Pada akhirnya, pebisnis tersebut akan menjadi satu-satunya pemain dominan di pasar. Ketika itu terjadi, tidak ada pilihan lain bagi konsumen selain mengikutinya.

Konsumen akan bergantung pada pebisnis dominan tersebut. Sehingga, akan menciptakan monopoli pasar di bidang bisnis tersebut.

Perang harga dan potensi monopoli pasar

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha mengisyaratkan jika perang harga yang berkepanjangan dapat menciptakan kondisi monopoli pasar.

Di mana satu perusahaan yang menguasai pasar dapat menentukan harga yang diinginkan tanpa adanya persaingan. Kondisi ini dapat merugikan konsumen karena mereka tidak memiliki pilihan lain selain membeli produk dari perusahaan tersebut.

Tentunya bisa dengan harga yang lebih tinggi. Hal ini akan menghambat inovasi dan perkembangan di industri tersebut. Persaingan yang sehat justru diperlukan untuk mendorong pengembangan produk baru dan peningkatan kualitas.

Selain itu, perang harga juga berdampak negatif pada kualitas produk dan layanan. Ketika perusahaan terjebak dalam perang harga, mereka mungkin terpaksa memotong biaya produksi dan mengurangi kualitas produk atau layanan untuk tetap bertahan.

Hal ini bisa mengakibatkan menurunya kepuasan konsumen dan merusak reputasi brand. Perang harga juga merugikan bisnis kecil dan menengah yang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk bersaing dengan harga yang sangat rendah.

Mereka mungkin tidak dapat bertahan dalam jangka panjang dan akhirnya keluar dari pasar. Kondisi ini dapat mengurangi keberagaman pelaku bisnis di pasar dan mengurangi pilihan yang tersedia bagi konsumen.

Pada akhirnya, perang harga yang berkepanjangan dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi dan merugikan pertumbuhan negara untuk jangka panjangnya.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan regulator untuk terus memantau dan mengatur persaingan bisnis. Tujuannya tentu mencegah praktik perang harga yang merugikan semua pihak.

Scroll to Top